Langkah Mudah Jadi Orang Saleh

Setiap orang pasti ingin menjadi manusia baik atau paling tidak, di anggap baik orang-orang sekitar. Tidak ada seorangpun yang ingin dirinya menjadi manusia buruk, di sisi Allah SWT maupun dalam pandangan manusia. Ini tak lain karena fitrah manusia itu sendiri yang sejak pertama kali diciptakan hingga terlahir ke dunia dalam keadaan suci, ia tidak pernah dilahirkan untuk menjadi manusia iblis yang menakutkan dan hanya membuat kerusakan.

Jika ada manusia yang demikian, lebih sadis dari setan dan lebih amoral daripada binatang. Sesungguhnya ia sedang dalam pengaruh hawa nafsu yang menguasi jiwa dan raga seseorang. Bagaimanapun, tidak mungkin ada orang yang berlaku aniaya pada diri sendiri kecuali ia dalam kesesatan yang nyata. Orang yang seperti ini, jika ditanya ingin akhir hidupnya seperti apa. Jawabannya pasti ingin husnul khatimah.   

Cara menjadi baik atau salehpun bermacam-macam, ada yang dengan menjadi pemimpin. Lewat jalur kekuasaan bagi sebagian orang lebih mudah menjadi saleh dan berbuat kebajikan. Ia bisa membuat kebijakan untuk kemaslahatan rakyat yang dipimpinnya. Memutuskan dengan adil dan senantiasa berpihak pada kebenaran. Lewat kekuasaan, ia bisa mencegah kemungkaran dengan cara baik dan menyeru kebaikan dengan cara baik pula.

Ada pula yang lewat perniagaan, menjadi pedagang yang jujur sekaligus dermawan. Gemar membantu sesama dengan kekayaan yang dimiliki. Baginya, berderma dengan finansial merupakan jalan menuju puncak kebaikan, menjadi manusia saleh yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa. Banyak penjelasan berasal dari Allah SWT dan rasul-Nya tentang keutamaan dan keistimewaan orang kaya yang dermawan.

Tidak sedikit orang memilih mengajar untuk menjadi orang saleh dan berbuat kebajikan. Mendidik dan mengantarkan anak didik menjadi manusia-manusia baik sekaligus terpelajar, pemimpin masa depan, pengusaha dermawan dan guru cerdas, pintar dan ikhlas dalam mengabdi dan mengajar. Lembaga pendidikan menjadi ladang bagi banyak orang untuk menempa diri menjadi orang saleh yang diidamkan banyak orang.

Bagi orang yang belum mampu menjadi pejabat pemerintah, pengusaha kaya raya dan pengajar yang tidak pernah lelah. Mereka memilih pekerjaan sesuai dengan bidang dan keahliannya, beramal sesuai kemampuan yang dimiliki dan sembari terus berusaha mengungguli orang-orang yang kelebihan dalam berkarya. Mereka di antaranya, penulis yang tidak mengharapkan apa-apa selain pahala dari Allah tuhan semesta, petani dan peternak biasa dan lain sebagainya.

Kecemburuan mungkin ada, karena bagaimanapun amal orang kaya raya dan petani biasa itu akan berbeda nilainya. Pejabat pemerintah yang adil dan bijaksana akan lebih tinggi derajatnya dibandingkan rakyat biasa. Guru yang dengan ikhlas dan tanpa lelah mengajar, jauh lebih baik daripada seorang murid yang sedang belajar meski dengan susah payah. Namun, semua sudah sesuai dengan maqamnya, Allah SWT yang akan memberikan penilaian kepada para hamba-Nya.

Pernah suatu ketika, nabi Muhammad SAW didatangi oleh sebagian para sahabatnya yang secara finansial kurang berpunya. Mereka sampaikan kecemburuan sosialnya terhadap saudaranya yang kaya raya dan berkata: “Wahai Rasulullah, enak ya jadi orang kaya! Mereka salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa dan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta yang dimiliki, sedangkan kami tidak bisa.”

Mendengar curhatan para sahabatnya ini, Rasulullah SAW kemudian bersabda: “Bukankah Allah telah menyiapkan untukmu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya tiap tahmid, tasbih, takbir dan tahlil adalah sedekah, menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah sedekah bahkan bersetubuh dengan isterimu adalah sedekah.” Para sahabat tersebut kaget mendengar jawaban dari Rasulullah SAW dan bertanya lagi.

“Wahai Rasulullah, apakah jika di antara kami menyetubuhi isterinya mendapatkan pahala juga? Rasulullah menjawab dengan nada bertanya; bukankah jika seseorang bersetubuh dengan orang yang bukan isterinya mendapatkan dosa?, maka demikianlah jika menyalurkan syahwatnya pada yang halal, niscaya ia mendapatkan pahala.” [lihat hadist ke 25 kitab Arba’in Nawawi tentang sedekah diriwayatkan oleh Imam Muslim].

Dalam arti lain, menjadi orang saleh itu tidak mesti harus pejabat pemerintah, pengusaha dengan kekayaan berlimpah ruah, pengajar dengan jam terbang tinggi dan gelar akademik yang berjejer rapi dan indah. Allah SWT mempunyai timbangan dan penilaian sendiri bagaimana seseorang itu dikategorikan orang saleh, beramal kebajikan serta mencegah kemungkaran. Boleh jadi yang hanya baca Subhanallah dan Allhamdulillah ditimbang sama dengan orang yang membangun masjid mewah.

Seorang alim ditanya oleh seorang pemuda, apakah dirinya termasuk golongan orang yang saleh. Sang alim kemudian menjawab dengan bertanya, apakah kamu senantiasa mendoakn kedua orangtuamu. Pemuda tersebut menjawab iya, saya selalu mendoakan kedua orangtua saya. Maka, jawaban seorang alim bahwa sang pemuda termasuk golongan orang yang saleh karena telah mendoakan orangtuanya.

Sesuai dengan apa yang disabdakan nabi Muhammad SAW: “Apabila anak adam telah meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: shodaqatun jariatun, yang pahalanya terus mengalir meski orangnya telah tiada. Waladun salehun, anak saleh yang senantiasa berbakti dan mendoakan dirinya dan ilmun yuntafa’u bihi, ilmu yang bermanfaat karena diajarkan, disebarkan dan diamalkan.”

Tergambar jelas sabda nabi Muhammad SAW dan penjelasan para ulama bahwa menjadi saleh atau baik itu mudah dan gampang. Tidak seribet dan seruwet yang dibayangkan, apalagi jika melihat orang lain dalam beramal. Cukup bertasbih menyucikan Allah, bertahmid memuji Allah, bertakbir membesarkan Allah dan bertahlil meng-Esakan Allah pahalanya ditimbang sama dengan pahala bersedekah.

Menyeru umat manusia pada kebaikan dan mencegahnya dari berbuat mungkar adalah perbuatan baik dan digolongkan dalam kegiatan sedekah. Apalagi mendatangi isteri lalu menyetubuhinya termasuk amalan ibadah dan mendapat pahala sedekah. Belum lagi, sebagai anak senantiasa berbakti kepada kedua orangtua dan selalu mendoakannya, niscaya ia termasuk golongan orang-orang saleh.

Kita yang tidak termasuk jajaran pejabat pemerintah, bukan pengusaha dengan kekayaan berlimpah dan bukan pula pengajar ilmu dengan gelar akademik panjang dan indah. Tidak usah resah apalagi gelisah, Allah SWT dan rasul-Nya memberi kabar gembira bagi siapa saja, termasuk kita di dalamnya untuk menjadi orang saleh tanpa harus keluar biaya dan tenaga yang susah payah. Pahalanya di sisi Allah SWT sama dan bahkan lebih besar jika kita ikhlas dan pasrah.

Penulis: Bustanol Arifin (Aktivis Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh Pesantren Hidayatullah Soreang)

Bagikan tulisan ini

Copyright © 2021 Sapapeduli. All Rights Reserved