Perintah Berkata Baik

Dalam salah satu sabdanya, nabi Muhammad SAW memerintahkan kita untuk senantiasa bertutur kata yang baik lagi benar: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (H.R: Bukhari dan Muslim). Perintah ini termasuk dalam pemilihan kosakata, intonasi, tempat dan waktu berbicara. Hal ini menjadi penting, agar interaksi atau hubungan kita dengan sesama tetap harmonis dan menyelamatkan kita dari siksa Allah SWT.

Selain hadis nabi Muhammad SAW, Alquran secara tersurat juga membimbing kita sekaligus memberikan contoh bagaimana bertutur kata yang baik tersebut. Pertama, dengan Qaulan Layyina. Bertutur kata dengan lemah lembut, sejuk, sopan, penuh keramahan dan berakhlak mulia. Tidak kasar dan lantang, tidak mengandung unsur cacian, kekerasan, olok-olok, paksaan dan lain sebagainya.

Kedua, dengan Qaulan Karima. Perkataan dengan Qaulan Karima sasarannya adalah orang yang sudah lanjut usia termasuk kedua orang tua kita. Perkataan mulia, penuh tatakrama, penghormatan dan penghargaan, tidak menggurui khususnya pada orang yang lebih tua dan tidak beretorika yang berbelit. Ketiga, dengan Qaulan Maisyura. Berasal dari kata yasr, yang artinya mudah.

Bertutur menggunakan perkataan ini berarti kosakata dan pesan yang hendak kita sampaikan itu sederhana, familiar, mudah dimengerti tanpa harus berfikir dua kali. Keempat, dengan Qaulan Ma’rufa mengandung arti perkataan yang baik. Prof. Dr. M. Quraish Shihab mengartikan dengan tutur kata baik yang sesuai dengan norma, nilai serta budaya kita, tidak menyinggung atau menyakiti perasaan lawan bicara kita.

Kelima, dengan Qaulan SadidaMemiliki arti perkataan yang tegas, benar, jujur, meyakinkan, tidak sombong dan tidak berbelit-belit. Artinya, perkataan kita tidak mengandung kebohongan, penipuan, rayuan gombal atau jebakan bagi orang lain. Keenam, dengan Qaulan Balingha. Perkataan yang berkesan atau membekas dalam diri seseorang. Bertutur dengan bahasa yang langsung pada permasalahan serta disesuaikan dengan kamampuan intelektual dan status sosial lawan bicara kita.

Demikianlah Allah SWT dan Rasul-Nya mengajari kita cara menjadi sosok manusia paripurna, berakhlak mulia melalui tutur kata. Sayyidina Ali pernah berkata: “Perkataan itu menggambarkan kepribadian seseorang.”  Oleh karenanya, membiasakan lisan kita menuturkan kata-kata baik dan menjaganya dari perkataan keji dan mungkar merupakan manifestasi iman kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Pepatah mengatakan: sebaik-baik perkataan adalah yang sedikit tapi berarti. Wallahu a’lam

Penulis: Bustanol Arifin (Aktivis Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh Pesantren Hidayatullah Soreang)

Bagikan tulisan ini

Copyright © 2021 Sapapeduli. All Rights Reserved