Renungan Jum’at: Dulu dan Sekarang

Alkisah, fenomena kehidupan luar biasa terjadi pada masa para sahabat dan dua generasi setelahnya. Seusai salat subuh, dalam suasana masih gelap gulita karena matahari belum terbit dan listrik juga belum ada. Tiba-tiba, jalanan di setiap sudut kota jadi ramai dan terang benderang karena pancaran sinar obor yang dibawa oleh orang-orang. Pemandangan ini terjadi hanya sekali dalam sepekan.

Mereka berbondong-bondong ke luar rumah, bukan hendak ke pasar seperti lumrahnya di kita dan bukan pula hendak olahraga bersama atau liburan akhir pekan. Pagi buta, mereka membawa obor sebagai penerang jalan, menggunakan pakaian terbaik mereka. Dalam kondisi bersih, suci dan rapi. Tujuan utamanya hanya satu, yakni masjid. Mereka, hendak menjemput keutamaan yang Allah dan Rasul-Nya telah janjikan.

Kenapa harus pagi buta? Inilah kelebihan dari generasi awal umat Islam. Ketika mereka mendengar seruan Allah dan Rasul-Nya, iman mereka langsung menyambut dengan gegap gempita. Kala mendengar keistimewaan hari Jum’at dan keutamaan yang ada didalamnya, seketika itu mereka langsung memburu untuk mendapatkannya. Berlomba-lomba menjadi yang terdepan dan pertama meraihnya.

Menakjubkan! Bahkan, ada yang sejak malam harinya sudah di masjid. I’tikaf sambil mengerjakan amal ibadah hingga waktu Jum’at tiba. Selain menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya dan berburu pahala, kehadiran mereka ke masjid sekaligus dalam rangka mensucikan jiwa mereka. Kesadaran individu dalam melaksanakan syariat Islam begitu besar, hingga membuat decak kagum generasi setelahnya.

Fenomena ini dikisahkan oleh imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin. Untuk menggambarkan kehidupan beragama dan pengamalan syari’at Islam pada masa generasi awal, sekaligus sebagai motivasi bagi generasi selanjutnya agar senantiasa bersemangat dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Lain dulu lain sekarang, keistimewaan dan keutamaan hari Jum’at dari dulu sampai sekarang tidak ada bedanya. Hanya beda generasi, zaman dan perlakuannya. Seperti kisah di atas, sejak pagi buta orang-orang sudah berangkat ke masjid untuk menggapai pahala sedekah yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Semakin jauh jarak yang harus ditempuh, semakin bergairah menjemput Rahmah.

Sekarang! Jarak tempuh hanya beberapa langkah dari rumah. Kalaupun naik kendaraan, cukup 5 sampai 10 menit saja. Tapi, berangkatnya menjelang adzan berkumandang dan itupun katanya sudah datang paling awal. Banyak juga yang sengaja datang belakangan, nunggu adzan berkumandang. Parahnya lagi, sudah sampai di tujuan tapi masih nunggu di halaman atau parkiran, agar bisa salat di saf paling belakang.

Datangnya paling akhir, pulangnya paling awal. Saya tidak tahu, apakah yang demikian dapat keutamaan. Fenomena menakjubkan, tapi yang tidak karuan. Duh, Gusti nu agung! Beda, juma’atan dulu dan sekarang. Padahal, hari Jum’at adalah hari raya umat Islam. Mestinya, diagungkan, dimuliakan dan dimeriahkan dengan memakmurkan masjid, memperbanyak dzikir, shalawat, doa, salat dan tilawah Al-Qur’an.

Penulis: Bustanol Arifin (Aktivis Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh Penpes Hidayatullah Soreang)

Bagikan tulisan ini

Copyright © 2021 Sapapeduli. All Rights Reserved