Santri dan Literasi Jari

Harus diakui, perkembangan teknologi dan informasi saat ini turut serta memberikan dampak signifikan pada pergeseran sebagian budaya bangsa. Budaya lisan yang menjadi ciri dan karakter masyarakat Indonesia pada umumnya, kini mulai tergantikan oleh budaya tulisan lewat perantara alat bernama teknologi dan informasi. Intensitas interaksi sosial masyarakat yang sebelumnya dilakukan dengan tatap muka, kini cukup dilakukan lewat dunia maya.

Satu sisi, pergeseran budaya tutur ke tulisan ini menjadi kabar baik dan menggembirakan bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, kemajuan peradaban sebuah bangsa senantiasa berbanding lurus dengan tingginya literasi (membaca dan menulis) bangsa itu sendiri. Sebuah Negara yang masyarakatnya memiliki minat dan kemampuan membaca tinggi akan dengan mudah ditemukan tulisan-tulisan sekaligus menjadi tempat bagi tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan.

Namun, sisi lainnya perlu juga diwaspadai. Transformasi manual ke digital jika tidak dibarengi dengan peningkatan litarasi masyarakat akan berubah menjadi preseden buruk bagi kemajuan bangsa. Alih-alih berkemajuan, justru yang ada adalah kemunduran bertopengkan teknologi informasi. Selain karena gagal teknologi (gaptek) dan cenderung menjadi pengguna, juga terkesan hanya menggeser budaya tutur ke ruang virtual tanpa perubahan esensi dan substansi.

Fenomena ini kemudian menjadi menarik ketika diperbandingkan dengan dunia santri, yang senantiasa indentik dengan dunia literasi. Belajar dan mengajar adalah aktifitas inti para santri di pesantren. Tiada hari tanpa belajar dan tiada henti untuk mengajar, mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara. Bahkan, sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk, pesantren sudah lebih dulu melakukan pembinaan dalam meningkatkan literasi masyarakat dan berhasil.

Buktinya, saat bangsa Indonesia berada dalam cengkeraman kolonialisme, yang pertama kali tampil ke gelanggang menyerukan dan melakukan perlawanan adalah para kyai dan santri dari pesantren. Puncaknya, ketika KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad dan menyerukannya kepada segenap rakyat Indonesia untuk melawan dan mengusir penjajahan dari bumi pertiwi. Hingga pada akhirnya diperingati sebagai hari santri setiap tanggal 22 Oktober.

Keberhasilan para kyai dan santri dalam melakukan pencerahan serta meningkatkan literasi bangsa sudah tidak diragukan lagi. Kesadaran masyarakat akan bahaya kolonialisme serta keterpanggilan jiwa mereka dalam menerima seruan jihad melawan penjajah adalah bukti konkret bahwa tingkat literasi masyarakat saat itu begitu tinggi. Dapat dibayangkan seandainya masyarakat saat itu tidak paham apa itu jihad dan penjajahan, kemungkinan juga tidak akan tahu arti kemerdekaan sebuah bangsa dan negara.

Masalahnya kemudian, apa yang sudah dilakukan oleh para santri selama ini belum bisa menjadi candradimuka Indonesia sabagai sebuah bangsa. Hasil riset dari Semiocast tahun 2017, sebuah lembaga riset independen di Paris mengatakan bahwa masyarakat Indonesia termasuk bangsa paling cerewet di dunia maya. Pada saat yang sama, tingkat literasinya (minat dan kemampuan membaca) justru tergolong sangat rendah dibanding dengan Negara-negara lain.

UNESCO menyebut indeks minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, sekitar 0,001% atau dari 1,000 orang hanya 1 orang yang gemar membaca [www.republika.co.id/15/12/14]. Sedangkan Central Connecticut State University (CCSU) menempatkan Indonesia di posisi 60 dari 61 negara [www.kominfo.go.id/10/10/17]. Artinya, benar bahwa budaya tutur di dunia nyata pada kalangan masyarakat Indonesia hanya berpindah tempat ke dunia maya.

Meningkatkan Literasi Bangsa

Berbicara literasi memang tidak akan pernah terlepas dari kegiatan membaca dan menulis. Membaca, dalam kacamata Alquran yang termaktub dalam surah Al-Alaq ayat 1 bukan hanya sekedar melafalkan kata atau angka. Lebih dari itu, ia adalah sebuah kegiatan menelaah, mengamatai, memikirkan dan meneliti alam semesta, yang dengannya dapat mengantarkan seseorang mengenal Tuhan sang pencipta.

Hal ini sejalan dengan kegiatan santri di pesantren. Membaca, menelaah, memikirkan dan meneliti merupakan santapan utama para santri. Selain untuk meningkatkan kapasitas diri, juga sebagai sarana mengenal Tuhan sang pencipta. Seirama dengan tujuan utama pendidikan nasional yang tertuang dalam UUD 45: “Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat dan berilmu.”

Tentu saja, ini menjadi modal utama untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa Indonesia. Lewat peningkatan literasi (membaca dan menulis) kepada segenap generasi ibu pertiwi. Para santri sudah saatnya terjun ke gelanggang, terpanggil jiwa dan raganya untuk menyeru dan mencerahkan kehidupan bangsa dan Negara. Berjihad, mengentaskan kebodohan serta meninggikan harkat dan martabat bangsa. 

Bagaimana Caranya?

Diperlukan sebuah terobosan baru berupa difusi dan inovasi, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman demi terwujudnya kemajuan. Perkembangan teknologi dan informasi harus dijadikan sebagai momentum kebangkitan nasional. Seluruh elemen bangsa, khususnya santri bersatu padu menjadi penggerak sekaligus pemandu perubahan. Menjadikan teknologi dan informasi sebagai sarana seruan dan penyadaran pada masyarakat akan pentingnya literasi.

Averett M. Roger mengisahkan bagaimana petani Amerika [1950] mau menerima ide baru tentang pertanian. Konon, ketika awal mula benih jagung serta teknik bertani modern dikenalkan kepada para petani di sana, mereka enggan atau ragu menerima ide tersebut. Namun, karena terus menerus dikampanyekan melalui kanal media, informasi disebar secara masif. Akhirnya, mereka mau menerima gagasan baru tersebut dan dikenallah sampai sekarang dengan Popcorn.

Di Indonesia, program pemerintah yang menggunakan pendekatan difusi-inovasi dan dianggap berhasil hingga sekarang adalah program Keluarga Berencana (KB). Banyak masyarakat menolak ketika gagasan ini dimunculkan. Namun, pada akhirnya masyarakat menerima setelah manfaat program Keluarga Berencana (KB) disampaikan secara benar, terus menerus, masif dan berkelanjutan melalui teknologi dan informasi.

Artinya, senjata atau alat untuk menyadarkan masyarakat sudah hadir di hadapan. Hanya butuh langkah konkret untuk memulai dan membuat lompatan perubahan. Menyajikan pesan-pesan kebaikan, persatuan dan kemajuan berupa tulisan, gambar dan video menggunakan teknologi terbarukan. Selanjutnya, memasifkan penyebaran informasi melalui kanal media sosial, mengkampanyekan secara terus menerus dan berkelanjutan.

Keberhasilan Amerika dalam menyadarkan para petani dan Indonesia dalam mencegah terjadinya ledakan penduduk menjadi rule model bagi sukses dan berhasilnya peningkatan literasi bangsa. Jika ini dilakukan secara serius dan konsisten, dalam kurun yang singkat akan terjadi lompatan perubahan. Inilah medan juang para santri zaman sekarang, memanfaatkan dan memaksimalkan fungsi teknologi dan informasi sebagai sarana meningkatkan literasi bangsa.

Penulis: Bustanol Arifin (Aktivis Pemuda Hidayatullah dan Pengasuh Pesantren Hidayatullah Soreang)

Bagikan tulisan ini

Copyright © 2021 Sapapeduli. All Rights Reserved